Sunday, December 2, 2012

Nonton Sepak Bola

Team that I used to Love :">


Sebenarnya aku sudah merencanakan menulis tentang ini sejak lama. Classic case... Karna kesibukan jadi selama ini aku menyimpan kerangka tulisannya di kepala. Alhamdulillah semalam akun twitter @islamituIndah_ membahas tentang sepak bola, jadi termotivasi juga untuk menulis tentang hobi yang berangsur-angsur kutinggalkan ini.


Kisah Hobiku Menonton Bola

Kelas 6 SD
Kelas 6 SD aku mulai suka menonton bola, itu tak lepas dari peran orangtuaku yang suka menonton pertandingan bola. Waktu itu aku hanya sebatas ikutan-ikutan saja. Seru juga ikut-ikutan ribut bergabung dengan orangtua yang riweuh mendukung timnas. Saat itu aku juga belum mengerti kompetisinya Piala Dunia kah? Piala Asean? Aku benar-benar tidak tahu. Yang kutahu saat itu hanya karna aku orang Indonesia jadi harus mendukung Indonesia, aku harus merasa senang kalau Indonesia berhasil membuat gol dan merasa kecewa jika gawang Indonesia kebobolan. 

SMP
Memasuki masa-masa SMP katakanlah aku menaiki jenjang yang agak tinggi. Aku sudah memiliki tim favorit di Liga Inggris (saat itu pertandingannya ditayangkan di TPI). Klub favoritku adalah Liverpool. Aku masih ingat formasi andalan the Kop dan pemain-pemain cemerlangnya yang memang menjadi skuad utama negaranya untuk World Cup atau Euro. Misalnya: John Arne Riise, Dietmar Hamman, Smicer, Sami Hyypia, Gerrard, Westerfeld, Heskey, Fowler, Carragher, Westerveld, Berger, Redknapp. Pemain favoritku waktu itu bernomor 4 dan 17. FYI Nomor 17 masih bertahan di dengan memakai nomor 8 Liverpool.

SMA
Ketika memasuki masa-masa SMA aku menikmati pertandingan Liga Calcio dan Liga Champion. Aku merupakan fans Milan dan Madrid saat itu. Aku selalu punya dan tahu jadwal pertandingan Liga Inggris, Itali dan liga Champions. Setiap akhir pekan aku disibukan dengan jadwal nonton bola di saat teman-temanku yang beranjak ABG sedang sibuk berbunga-bunga oleh pacar dan gebetan mereka. (Sebenarnya tidak ada yang bisa dibanggakan juga sih dari aku yang memelototi sepak bola dengan teman-teman yang sibuk ngegebet)

Walaupun hobiku bermula dari mengikuti orangtuaku, sejujurnya mereka kurang menyukai hobiku itu. Orangtuaku tipe penonton sepak bola karena ada event tertentu saja, misalnya Piala Dunia atau Friendly Match antara negara-negara di Asia. Orangtuaku tidak suka pertandingan yang rutin semisal La Liga, Liga Calcio, EPL atau Liga Champions.

Jadwal Liga Champions yang jadwalnya di pertengahan minggu dan dini hari memang bukan jadwal yang oke untuk siapapun, baik itu untuk yang sudah bekerja apalagi untuk anak sekolah. Setiap aku sedang menonton bola, ibu dan nenekku yangi bangun untuk shalat malam berkali-kali menegurku (tak jarang karna lelah menegur nenek akhirnya duduk di sampingku, ikutan nonton).

Komentar mereka yang sangat tipikal ketika memergokiku menonton sepak bola dini hari adalah, "kamu bisa bangun malam cuma untuk menonton bola, coba kalau shalat malam."
Untungnya aku selalu mempunyai jawaban yang juga tipikal, "sudah donk!"

Aku memang membuat perjanjian dengan diriku sendiri, jika aku bangun malam karna ingin nonton sepak bola berarti sebelumnya aku harus shalat malam  dan ketika pertandingan berlangsung harus ada kegiatan bermanfaat yang bisa kulakukan misalnya belajar (mengerjakan PR, merangkum, membuat buku pintar, buku rumus dan lain sebagainya) you know...I tried to make it balance. Tapi tetap saja ya...judul utamanya adalah nonton sepak bola. Gak bisa dipungkiri juga bangun malamnya karena niat untuk nonton sepak bola, sedangkan shalat malamnya niat sampingan, astaghfirullah....

Sekali lagi aku katakan bahwa jadwal Liga Champions itu bukanlah jadwal yang cantik. Misalnya jadwal pertandingan Liverpool dimulai pukul 1:30 dan berakhir pada pukul 3:00. Lalu akan tayang pertandingan selanjutnya yaitu Milan/Madrid pada pukul 3:00-4:30 . So, waktu 3 jam (ini belum termasuk additional time dan iklan loh) yang harusnya digunakan untuk tidur, bangun khusus shalat lail, mengistirahatkan jiwa dan raga, mengoptimalkan kerja liver manusia saat tidur, malah dihabiskan terjaga untuk nonton bola.

Jujur, esoknya merasa ngantuk tapi hepi (yah, karena pada saat itu Liverpool sedang jaya-jayanya menang, kan?). Jadi buat menangkal rasa kantuk, biasanya aku minum kopi. (Kebayang lagi kan? Sudah kurang tidur. Liver bekerja tidak optimal. Malah ditambah dengan minum kopi.)

Hingga pada tahun 2005 orangtuaku mengeluarkan dekrit tentang menonton TV. Ada sejenis tombol pengatur nyala-tidaknya TV yang dipasang di kamar orangtuaku. Biasanya orangtuaku suka menon-aktifkan tombol tersebut mulai pukul 9 malam. Kadang kalau aku sedang beruntung, aku bisa meminta adikku yang tidur dikamar orangtuaku untuk meng-aktifkan tombol tersebut. Jadi, dini harinya aku tetap bisa nonton bola. Kadang jika tidak beruntung  siaran TV tiba-tiba berhenti ketika tengah asyik menonton bola karena ibuku menon-aktifkannya. Terus apa yang kulakukan? Tentu saja pasrah dan tidur, tidak mungkin juga aku protes.

Dimulai dari tombol pengendali, sampai akhirnya orangtuaku mencabut antena luar secara permanen. Ini bukan semata karena hobiku menonton sepak bola, tapi karena orangtua kami sudah mulai kewalahan dengan acara-acara yang ada di televisi yang kebanyakan tidak mendidik. (Di tulisan lain aku akan cerita tentang televisi di keluargaku)

Sampai untuk beberapa tahun TV hanya menjadi pajangan di ruang tengah rumahku dan akhirnya di tahun 2007 ibuku memberikan TV tersebut pada Radio SIS (Radio Dakwah Salaf). Lagi pula tidak ada bedanya bagi kami, karna  walaupun ada TV, kami sudah terbiasa hidup tanpa TV di rumah. Di kost, aku punya TV dan sungguh aku hanya menggunakannya untuk nonton berita, seputar Bola dan movies.

Ketika kuliah, aku membatasi menonton sepak bola hanya jika tim favoritku yang bertanding, yaitu hanya Liverpool, Milan dan Madrid. Kadang-kadang aku nonton MU juga sih (Seru aja kalau lihat MU tanding walau bukan jagoanku).

Makin ke sini intensitas menonton sepak bola makin berkurang. Perubahan pemain Milan dan Madrid makin ke sini makin tidak aku sukai. Jadi aku hanya menonton Liverpool serta pemerhati peringkat klasemen saja.

Entah karena usiaku atau karna rasa jenuh, aku mulai malas menonton bola dari awal sampai akhir. Paling-paling hanya menonton kira-kira 10 menit terakhir supaya mengetahui skor akhirnya gimana. Percuma juga sih jika nonton dari awal pertandingan tapi di injury time malah tidur.

Tahun 2010 aku kembali ke Cirebon for good, Tv -ku tidak dibawa pulang karena peraturan rumahku tetap sama, yaitu tidak ada TV. Aku berikan TV itu pada sepupuku. Lagipula aku masih punya TV tunner, kalau mau nonton TV kan tinggal pasang, sayangnya kalau hanya mengandalkan antena dalam siaran yang diterima kurang begitu jelas. Makin malas nonton!

Singkat cerita ketika mengenal dan belajar Manhaj Salaf, khususnya ketika membaca artikel dari blog dan mading adikku, ketidakacuhanku akan pertandingan bola semakin besar. But still.... dukungan rasa kepoku pada Liverpool dan peringkat klasemen masih ada, walaupun tidak sebesar dulu. Aku sudah tidak segeram dulu kalau Liverpool kalah. Lagipula, kalah dan menangnya Liverpool kan tidak berimbas apa-apa pada hidupku, apalagi agamaku. Untuk apa juga aku sedih? :D

Tak bisa dipungkiri juga sih jika sedang berada di rumah saudara dan saudaraku sedang menonton bola, aku suka ikutan nonton meskipun tidak seserius dulu. Malah seringnya hanya sesekali memindahkan chanel hanya untuk mengetahui skornya, dan itu cukup membuatku puas. Atau kadang ketika ingin banget, aku bisa menontonnya lewat TV HP  (karena layarnya yang kecil jadi berasa nonton FM. Jadi pertandingan Liverpool vs Chelsea yang terlihat hanyalah bulatan-bulatan merah dan biru, gak asik ya? Seperti lihat orang main kerambol). Daripada pusing nonton dengan layar sekecil itu, aku hanya mendengarkan via earphone untuk memantau jalannya pertandingan(mirip Kogoro Mouri ketika dengerin siaran pacuan kuda lewat radio, hehe) biasanya sambil baca-baca buku/artikel, crafting, drawing atau browsing, kalau komentator terdengar seru baru aku melihat layar. Kalau sedang males liat di TV, kan ada TL twitter, update juga ko hehe

Demikian sejarah tentang hobiku yang suka menonton sepak bola sampai sedikit demi sedikit melepaskannya. Dengan pengalaman dan banyak membaca tentang hukum menonton sepak bola, lama-kelamaan aku tahu apa untung dan ruginya. Ruginya banyakkkk, kalau untungnya sih ya... feels such “asik-asik doank” sama lumayan juga sih aku menambah pengetahuan tentang nama-nama kota di Eropa, berbagai bentuk dan warna bendera.

Jadi, dari berbagai artikel yang kubaca, ada beberapa hal buruk yang ditimbulkan karna menonton sepak bola:

1. kewajiban shalat yang dilalaikan. Misalnya, pas adzan subuh bertepatan dengan injury time (bikin tanggung kan ya?) Kalau iman tidak terlalu kuat sih biasanya kalah alih-alih berhenti nonton bola dan pergi ke masjid ehh malah tetep asik fokus sama pertandingan. Shalat sih 10 menit juga gak sampai, tapi nonton bola 90 menit dilaksanakan (ini ironis kan?)
Contoh lain ketika pertandingan berakhir pada waktu yang nanggung (sebut saja setengah jam sebelum shalat Subuh). Waktu yang nanggung tersebut bisa membuat galau, jika tidur takut kebablasan, tapi tidak bisa menahan kantuk sampai subuh tiba. Hasil survey amatir mengatakan banyak yang memilih tidur (bisa jadi memang ketiduran) dan ujung-ujungnya shalat Subuh jadi kesiangan.
Padahal jika seseorang tahu bahaya meninggalkan shalat, maka tentu ia tidak akan meninggalkannya. Ia tidak akan meninggalkannya meskipun satu shalat saja. Karna meninggalkan shalat termasuk pada dosa besar, maksudnya dosa besar karena sudah meninggalkan rukun iman yang merupakan penegak bangunan Islam.

Sahabat yang mulia, ‘Umar bin Al Khottob radhiyallahu ‘anhu mengatakan,

لاَ إِسْلاَمَ لِمَنْ تَرَكَ الصَّلاَةَ

Tidak ada keislaman bagi orang yang meninggalkan shalat.”
Nahloooo?!!!!

2. Pekerjaan Kantor/ Pelajaran di Sekolah terabaikan
Biasanya orang yang tadi malam bergadang bawaannnya jadi mengantuk, setidaknya pekerjaan jadi kurang maksimal dilaksanakan yah kalau mengantuk, lemas atau kurang konsentrasi? Malah jangan-jangan suka ketiduran.

3. Mata bermaksiat dengan melihat aurat orang lain.
Poin ini membuatku berfikir cukup dalam lho. Ketika aku menonton pria-pria yang secara fisik itu ganteng dan bagus, bagaimana dengan perasaan suamiku? Okay, lets make this straight! Sebagai perempuan pastinya aku akan cemburu jika melihat suamiku menonton perempuan-perempuan sedang aerobik misalnya.
Kalau aku akan cemburu jika melihat suamiku menonton lawan jenis selama 90 menit, dan tentunya suamiku juga akan cemburu jika aku melakukan hal yang serupa.
Win-win solution deh.


4. Waktu begitu sia-sia dan kadang menimbulkan masalah baru.
Hal-hal yang sia-sia itu biasanya dirasakan belakangan. Renungkan saja dalam waktu 90 menit itu, apa yang bisa aku capai? 
Banyak yang tim-nya kalah malah mengeluarkan kata makian. Bagi yang tim kesayangannya menang malah senang membully teman yang tim kesayangannya kalah. Akibatnya sering terjadi cekcok. Adu mulut yang sama sekali gak ilmiah bermunculan di wall facebook dan timeline twitter. Temen unfollow temannya karna panas. Remove as friend dan yang sejenis itu. Childish ya? Bahkan di tingkat yang lebih maniak malah ada yang berantem beneran segala hehe... Siapa yang tanding, siapa yang berantem ya. Suka enggak nyambung.

5. Musuh Allah jadi idola. Sebenarnya point ini adalah point terpenting dari yang penting.

Firman Allah mengatakan:
Kamu tidak akan mendapati sesuatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya” (QS. Al Mujadilah: 22).
Selain itu Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَا يُحِبّ أَحَد قَوْمًا إِلَّا حُشِرَ مَعَهُمْ يَوْم الْقِيَامَة

Tidaklah seseorang mencintai suatu kaum melainkan dia akan dikumpulkan bersama mereka pada hari kiamat nanti.”

Setelah membaca artikel adikku dan  dan artikel yang berasal dari website terpercaya. Aku yang sempat ngefans pada pemain bola nomor 1, 17, 8 dan 4 ini semakin menyadari untuk apa juga aku suka mereka. Mereka bukan muslim, tidak ada yang bisa dicontoh. Mungkin yang bagus hanya penampilan fisik dan penampilan mereka di lapangan. Mereka yang aku idolakan tidak bisa menyelamatkanku ke dalam syurga. Masuk tidaknya seseorang itu ke syurga juga tergantung pada idolanya. Semua pemain bola itu rata-rata non muslim, gaya hidup mereka glamour, berbagai skandal, perselingkuhan, freesex (banyak yang mempunyai anak tanpa ikatan pernikahan), gonta ganti pacar, selingkuh, terkena kasus pelecehan sexual, kasus kriminal, menyetir sambil mabuk, berantem di klub malam. Halllooooo.... itukah yang dijadikan idola?

Dari point di atas sudah cukup jelas bagiku untuk tidak lagi menonton bola dan mengidolakan para pemainnya. Paling aman bagiku untuk saat ini adalah kepo-kepo di TL. (tetep ya....) dan lebih baik lagi kepo-keponya terhadap kisah Rasulullah dan para sahabat.

Ok then
Semoga ke depannya kita bisa menjadi lebih baik. Aamiin

Key

0 comments:

Post a Comment

Sunday, December 2, 2012

Nonton Sepak Bola

Team that I used to Love :">


Sebenarnya aku sudah merencanakan menulis tentang ini sejak lama. Classic case... Karna kesibukan jadi selama ini aku menyimpan kerangka tulisannya di kepala. Alhamdulillah semalam akun twitter @islamituIndah_ membahas tentang sepak bola, jadi termotivasi juga untuk menulis tentang hobi yang berangsur-angsur kutinggalkan ini.


Kisah Hobiku Menonton Bola

Kelas 6 SD
Kelas 6 SD aku mulai suka menonton bola, itu tak lepas dari peran orangtuaku yang suka menonton pertandingan bola. Waktu itu aku hanya sebatas ikutan-ikutan saja. Seru juga ikut-ikutan ribut bergabung dengan orangtua yang riweuh mendukung timnas. Saat itu aku juga belum mengerti kompetisinya Piala Dunia kah? Piala Asean? Aku benar-benar tidak tahu. Yang kutahu saat itu hanya karna aku orang Indonesia jadi harus mendukung Indonesia, aku harus merasa senang kalau Indonesia berhasil membuat gol dan merasa kecewa jika gawang Indonesia kebobolan. 

SMP
Memasuki masa-masa SMP katakanlah aku menaiki jenjang yang agak tinggi. Aku sudah memiliki tim favorit di Liga Inggris (saat itu pertandingannya ditayangkan di TPI). Klub favoritku adalah Liverpool. Aku masih ingat formasi andalan the Kop dan pemain-pemain cemerlangnya yang memang menjadi skuad utama negaranya untuk World Cup atau Euro. Misalnya: John Arne Riise, Dietmar Hamman, Smicer, Sami Hyypia, Gerrard, Westerfeld, Heskey, Fowler, Carragher, Westerveld, Berger, Redknapp. Pemain favoritku waktu itu bernomor 4 dan 17. FYI Nomor 17 masih bertahan di dengan memakai nomor 8 Liverpool.

SMA
Ketika memasuki masa-masa SMA aku menikmati pertandingan Liga Calcio dan Liga Champion. Aku merupakan fans Milan dan Madrid saat itu. Aku selalu punya dan tahu jadwal pertandingan Liga Inggris, Itali dan liga Champions. Setiap akhir pekan aku disibukan dengan jadwal nonton bola di saat teman-temanku yang beranjak ABG sedang sibuk berbunga-bunga oleh pacar dan gebetan mereka. (Sebenarnya tidak ada yang bisa dibanggakan juga sih dari aku yang memelototi sepak bola dengan teman-teman yang sibuk ngegebet)

Walaupun hobiku bermula dari mengikuti orangtuaku, sejujurnya mereka kurang menyukai hobiku itu. Orangtuaku tipe penonton sepak bola karena ada event tertentu saja, misalnya Piala Dunia atau Friendly Match antara negara-negara di Asia. Orangtuaku tidak suka pertandingan yang rutin semisal La Liga, Liga Calcio, EPL atau Liga Champions.

Jadwal Liga Champions yang jadwalnya di pertengahan minggu dan dini hari memang bukan jadwal yang oke untuk siapapun, baik itu untuk yang sudah bekerja apalagi untuk anak sekolah. Setiap aku sedang menonton bola, ibu dan nenekku yangi bangun untuk shalat malam berkali-kali menegurku (tak jarang karna lelah menegur nenek akhirnya duduk di sampingku, ikutan nonton).

Komentar mereka yang sangat tipikal ketika memergokiku menonton sepak bola dini hari adalah, "kamu bisa bangun malam cuma untuk menonton bola, coba kalau shalat malam."
Untungnya aku selalu mempunyai jawaban yang juga tipikal, "sudah donk!"

Aku memang membuat perjanjian dengan diriku sendiri, jika aku bangun malam karna ingin nonton sepak bola berarti sebelumnya aku harus shalat malam  dan ketika pertandingan berlangsung harus ada kegiatan bermanfaat yang bisa kulakukan misalnya belajar (mengerjakan PR, merangkum, membuat buku pintar, buku rumus dan lain sebagainya) you know...I tried to make it balance. Tapi tetap saja ya...judul utamanya adalah nonton sepak bola. Gak bisa dipungkiri juga bangun malamnya karena niat untuk nonton sepak bola, sedangkan shalat malamnya niat sampingan, astaghfirullah....

Sekali lagi aku katakan bahwa jadwal Liga Champions itu bukanlah jadwal yang cantik. Misalnya jadwal pertandingan Liverpool dimulai pukul 1:30 dan berakhir pada pukul 3:00. Lalu akan tayang pertandingan selanjutnya yaitu Milan/Madrid pada pukul 3:00-4:30 . So, waktu 3 jam (ini belum termasuk additional time dan iklan loh) yang harusnya digunakan untuk tidur, bangun khusus shalat lail, mengistirahatkan jiwa dan raga, mengoptimalkan kerja liver manusia saat tidur, malah dihabiskan terjaga untuk nonton bola.

Jujur, esoknya merasa ngantuk tapi hepi (yah, karena pada saat itu Liverpool sedang jaya-jayanya menang, kan?). Jadi buat menangkal rasa kantuk, biasanya aku minum kopi. (Kebayang lagi kan? Sudah kurang tidur. Liver bekerja tidak optimal. Malah ditambah dengan minum kopi.)

Hingga pada tahun 2005 orangtuaku mengeluarkan dekrit tentang menonton TV. Ada sejenis tombol pengatur nyala-tidaknya TV yang dipasang di kamar orangtuaku. Biasanya orangtuaku suka menon-aktifkan tombol tersebut mulai pukul 9 malam. Kadang kalau aku sedang beruntung, aku bisa meminta adikku yang tidur dikamar orangtuaku untuk meng-aktifkan tombol tersebut. Jadi, dini harinya aku tetap bisa nonton bola. Kadang jika tidak beruntung  siaran TV tiba-tiba berhenti ketika tengah asyik menonton bola karena ibuku menon-aktifkannya. Terus apa yang kulakukan? Tentu saja pasrah dan tidur, tidak mungkin juga aku protes.

Dimulai dari tombol pengendali, sampai akhirnya orangtuaku mencabut antena luar secara permanen. Ini bukan semata karena hobiku menonton sepak bola, tapi karena orangtua kami sudah mulai kewalahan dengan acara-acara yang ada di televisi yang kebanyakan tidak mendidik. (Di tulisan lain aku akan cerita tentang televisi di keluargaku)

Sampai untuk beberapa tahun TV hanya menjadi pajangan di ruang tengah rumahku dan akhirnya di tahun 2007 ibuku memberikan TV tersebut pada Radio SIS (Radio Dakwah Salaf). Lagi pula tidak ada bedanya bagi kami, karna  walaupun ada TV, kami sudah terbiasa hidup tanpa TV di rumah. Di kost, aku punya TV dan sungguh aku hanya menggunakannya untuk nonton berita, seputar Bola dan movies.

Ketika kuliah, aku membatasi menonton sepak bola hanya jika tim favoritku yang bertanding, yaitu hanya Liverpool, Milan dan Madrid. Kadang-kadang aku nonton MU juga sih (Seru aja kalau lihat MU tanding walau bukan jagoanku).

Makin ke sini intensitas menonton sepak bola makin berkurang. Perubahan pemain Milan dan Madrid makin ke sini makin tidak aku sukai. Jadi aku hanya menonton Liverpool serta pemerhati peringkat klasemen saja.

Entah karena usiaku atau karna rasa jenuh, aku mulai malas menonton bola dari awal sampai akhir. Paling-paling hanya menonton kira-kira 10 menit terakhir supaya mengetahui skor akhirnya gimana. Percuma juga sih jika nonton dari awal pertandingan tapi di injury time malah tidur.

Tahun 2010 aku kembali ke Cirebon for good, Tv -ku tidak dibawa pulang karena peraturan rumahku tetap sama, yaitu tidak ada TV. Aku berikan TV itu pada sepupuku. Lagipula aku masih punya TV tunner, kalau mau nonton TV kan tinggal pasang, sayangnya kalau hanya mengandalkan antena dalam siaran yang diterima kurang begitu jelas. Makin malas nonton!

Singkat cerita ketika mengenal dan belajar Manhaj Salaf, khususnya ketika membaca artikel dari blog dan mading adikku, ketidakacuhanku akan pertandingan bola semakin besar. But still.... dukungan rasa kepoku pada Liverpool dan peringkat klasemen masih ada, walaupun tidak sebesar dulu. Aku sudah tidak segeram dulu kalau Liverpool kalah. Lagipula, kalah dan menangnya Liverpool kan tidak berimbas apa-apa pada hidupku, apalagi agamaku. Untuk apa juga aku sedih? :D

Tak bisa dipungkiri juga sih jika sedang berada di rumah saudara dan saudaraku sedang menonton bola, aku suka ikutan nonton meskipun tidak seserius dulu. Malah seringnya hanya sesekali memindahkan chanel hanya untuk mengetahui skornya, dan itu cukup membuatku puas. Atau kadang ketika ingin banget, aku bisa menontonnya lewat TV HP  (karena layarnya yang kecil jadi berasa nonton FM. Jadi pertandingan Liverpool vs Chelsea yang terlihat hanyalah bulatan-bulatan merah dan biru, gak asik ya? Seperti lihat orang main kerambol). Daripada pusing nonton dengan layar sekecil itu, aku hanya mendengarkan via earphone untuk memantau jalannya pertandingan(mirip Kogoro Mouri ketika dengerin siaran pacuan kuda lewat radio, hehe) biasanya sambil baca-baca buku/artikel, crafting, drawing atau browsing, kalau komentator terdengar seru baru aku melihat layar. Kalau sedang males liat di TV, kan ada TL twitter, update juga ko hehe

Demikian sejarah tentang hobiku yang suka menonton sepak bola sampai sedikit demi sedikit melepaskannya. Dengan pengalaman dan banyak membaca tentang hukum menonton sepak bola, lama-kelamaan aku tahu apa untung dan ruginya. Ruginya banyakkkk, kalau untungnya sih ya... feels such “asik-asik doank” sama lumayan juga sih aku menambah pengetahuan tentang nama-nama kota di Eropa, berbagai bentuk dan warna bendera.

Jadi, dari berbagai artikel yang kubaca, ada beberapa hal buruk yang ditimbulkan karna menonton sepak bola:

1. kewajiban shalat yang dilalaikan. Misalnya, pas adzan subuh bertepatan dengan injury time (bikin tanggung kan ya?) Kalau iman tidak terlalu kuat sih biasanya kalah alih-alih berhenti nonton bola dan pergi ke masjid ehh malah tetep asik fokus sama pertandingan. Shalat sih 10 menit juga gak sampai, tapi nonton bola 90 menit dilaksanakan (ini ironis kan?)
Contoh lain ketika pertandingan berakhir pada waktu yang nanggung (sebut saja setengah jam sebelum shalat Subuh). Waktu yang nanggung tersebut bisa membuat galau, jika tidur takut kebablasan, tapi tidak bisa menahan kantuk sampai subuh tiba. Hasil survey amatir mengatakan banyak yang memilih tidur (bisa jadi memang ketiduran) dan ujung-ujungnya shalat Subuh jadi kesiangan.
Padahal jika seseorang tahu bahaya meninggalkan shalat, maka tentu ia tidak akan meninggalkannya. Ia tidak akan meninggalkannya meskipun satu shalat saja. Karna meninggalkan shalat termasuk pada dosa besar, maksudnya dosa besar karena sudah meninggalkan rukun iman yang merupakan penegak bangunan Islam.

Sahabat yang mulia, ‘Umar bin Al Khottob radhiyallahu ‘anhu mengatakan,

لاَ إِسْلاَمَ لِمَنْ تَرَكَ الصَّلاَةَ

Tidak ada keislaman bagi orang yang meninggalkan shalat.”
Nahloooo?!!!!

2. Pekerjaan Kantor/ Pelajaran di Sekolah terabaikan
Biasanya orang yang tadi malam bergadang bawaannnya jadi mengantuk, setidaknya pekerjaan jadi kurang maksimal dilaksanakan yah kalau mengantuk, lemas atau kurang konsentrasi? Malah jangan-jangan suka ketiduran.

3. Mata bermaksiat dengan melihat aurat orang lain.
Poin ini membuatku berfikir cukup dalam lho. Ketika aku menonton pria-pria yang secara fisik itu ganteng dan bagus, bagaimana dengan perasaan suamiku? Okay, lets make this straight! Sebagai perempuan pastinya aku akan cemburu jika melihat suamiku menonton perempuan-perempuan sedang aerobik misalnya.
Kalau aku akan cemburu jika melihat suamiku menonton lawan jenis selama 90 menit, dan tentunya suamiku juga akan cemburu jika aku melakukan hal yang serupa.
Win-win solution deh.


4. Waktu begitu sia-sia dan kadang menimbulkan masalah baru.
Hal-hal yang sia-sia itu biasanya dirasakan belakangan. Renungkan saja dalam waktu 90 menit itu, apa yang bisa aku capai? 
Banyak yang tim-nya kalah malah mengeluarkan kata makian. Bagi yang tim kesayangannya menang malah senang membully teman yang tim kesayangannya kalah. Akibatnya sering terjadi cekcok. Adu mulut yang sama sekali gak ilmiah bermunculan di wall facebook dan timeline twitter. Temen unfollow temannya karna panas. Remove as friend dan yang sejenis itu. Childish ya? Bahkan di tingkat yang lebih maniak malah ada yang berantem beneran segala hehe... Siapa yang tanding, siapa yang berantem ya. Suka enggak nyambung.

5. Musuh Allah jadi idola. Sebenarnya point ini adalah point terpenting dari yang penting.

Firman Allah mengatakan:
Kamu tidak akan mendapati sesuatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya” (QS. Al Mujadilah: 22).
Selain itu Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَا يُحِبّ أَحَد قَوْمًا إِلَّا حُشِرَ مَعَهُمْ يَوْم الْقِيَامَة

Tidaklah seseorang mencintai suatu kaum melainkan dia akan dikumpulkan bersama mereka pada hari kiamat nanti.”

Setelah membaca artikel adikku dan  dan artikel yang berasal dari website terpercaya. Aku yang sempat ngefans pada pemain bola nomor 1, 17, 8 dan 4 ini semakin menyadari untuk apa juga aku suka mereka. Mereka bukan muslim, tidak ada yang bisa dicontoh. Mungkin yang bagus hanya penampilan fisik dan penampilan mereka di lapangan. Mereka yang aku idolakan tidak bisa menyelamatkanku ke dalam syurga. Masuk tidaknya seseorang itu ke syurga juga tergantung pada idolanya. Semua pemain bola itu rata-rata non muslim, gaya hidup mereka glamour, berbagai skandal, perselingkuhan, freesex (banyak yang mempunyai anak tanpa ikatan pernikahan), gonta ganti pacar, selingkuh, terkena kasus pelecehan sexual, kasus kriminal, menyetir sambil mabuk, berantem di klub malam. Halllooooo.... itukah yang dijadikan idola?

Dari point di atas sudah cukup jelas bagiku untuk tidak lagi menonton bola dan mengidolakan para pemainnya. Paling aman bagiku untuk saat ini adalah kepo-kepo di TL. (tetep ya....) dan lebih baik lagi kepo-keponya terhadap kisah Rasulullah dan para sahabat.

Ok then
Semoga ke depannya kita bisa menjadi lebih baik. Aamiin

Key

No comments:

Post a Comment