Wednesday, October 3, 2012

Ghirah (Semangat)

Dearest M...
Sepanjang hari masih terasa hektik sepert biasa. Agak sedikit kewalahan juga dengan jahitanku. Rok merah muda untuk Najla belum selesai, dan bahkan aku sudah berani-beraninya melangkah pada materi selanjutnya: membuat kemeja berkerah.

Belajar menjahit kadang tidak sesukar yang kubayangkan, dan kadan tidak semudah yang kubayangkan sebelumnya. Untuk menjahit sebuah baju, kurasa bagian tersulit adalah saat menjahit bagian tangan. Jahit, kemudian dedel. Jahit kemudian dedel. Begitu beberapa kali. Membuatku sangat ingin membakar baju itu sekaligus.
Ternyata bukan hanya aku yang merasakan hal yang sama.

Hey M, akan kuceritakan hal-hal yang kualami hari ini.
Hari ini aku berangkat lebih pagi dari sebelumnya. Bertemu lagi dengan Mrs. D, guru kursusku yang cantik dan ceria.
Menyapaku dan dengan sangat perhatian bertanya tentang kesehatan ibuku karna kemarin aku izin mengantar Mom ke Rumah Sakit. Aku menjelaskan padanya bahwa Mom terkena Katarak. Kataraknya disebabkan karna penggunaan obat steroid, kau tahu kan bahwa Mom mengkonsumsi obat tersebut setiap hari selama lebih dari 5 tahun.

Mrs. D terlihat prihatin ketika mendengarnya kemudian mengatakan, "Semua orang mendapatkan cobaan sendiri-sendiri yang berbeda-beda. Semoga ibumu lekas sembuh."

Aku meng-aamiin-i, kemudian aku pamit untuk masuk ke dalam ruang praktek.

Ruang praktek menjahit ini luasnya kira-kira 10X4 meter, di dalamnya terdapat 7 uah mesin jahit dinamo, 1 buah mesin obras dan 10 mesin jahit manual. Di ujung ruangan sebelah kanan terdapat sebuah meja setrika bersama perlengkapan menyetrika.

Baru empat orang yang sudah berada di dalam ruang tersebut. Keempatnya adalah seniorku, rekan seangkatanku belum ada yang datang. Di atas mesin jahit favoritku yang kuincar, sudah tergeletak sebuah tas pink. Menandakan bahwa mesin itu akan digunakan oleh orang lain.

Aku mengeluh lemas dalam hati, "sepagi apapun aku datang, mesin itu memang bukan untukku." 
Aku pun mengambil mesin yang berada di depannya. Semua mesin jahit manual di sini sama saja, kecuali mesin jahit favoritku, hmmm....maksudku, mesin favorit kami. Makanya, mesin itu selalu menjadi bahan rebutan karna itu satu-satunya mesin jahit manual yang tak pernah bertingkah menyebalkan: tak ada benang kusut, tak ada benang putus, tak ada jahitan kendur. Pokoknya, kau akan selalu aman bersamanya. (Mungkin terdengar agak berlebihan, tapi ini nyata, M)

Alhamdulillah...
Sekitar pukul 10 aku bisa menggunakan mesin jahit keren itu karena Hana harus masuk kelas teori.
Oh ya, M.
Aku masih berkutat dengan tangan baju. Kemarin Any, seniorku, memotongnya lebih banyak 1 cm di bagian ketiak. Jadi mau tidak mau, aku harus mendedel (LAGI) lengan bajunya supaya aku bisa menambahkan jahitan 1/2 cm lebih besar.
Yup.. seperti yang selalu banyak orang katakan, menjahit adalah tentang ketelitian dan kesabaran. Kau harus teliti supaya tidak melakukan kesalahan dalam mengukur, mengguntik dan menjahit sebah baju. Dan kesabaran amat sangat diperlukan ketika kau mengalami kesalahan, kesabaran di sini maksudku adalah kesabaran dalam usahamu untuk memperbaikinya.

Entahlah, hari ini merupakan hari "Pendedelan Nasional" bagiku. Di sampingku, Arf juga sedang melakukan hal yang sama: mendedel. Kita senasib. Oleh karena itu kita berusaha untuk mengalihkan perhatian dari kebetean mendedel dengan membahas banyak tema sepanjang hari ini. And it worked.

Aku suka sekali dengan situasi ruang praktik hari ini. Kondusif, tenang, tanpa kegaduhan dari musik yang biasanya diputar oleh Any.
Sepanjang hari ini juga Any mendampingi kami, mengarahkan juga memberi nasehatnya dalam jahit-menjahit. Ia seorang perfeksionis, dan sifat itu memang harus dimiliki oleh seorang penjahit sejati. Ia akan menyuruh kami mendedel dan mengulangi jahitan jika jahitan kami terlihat berkerut atau tidak rapi. Any melakukanya dengan baik dan tidak bossy, sehingga kami merasa menyenangkan walau harus mendedel jutaan kali. 

Akhirnya, kami memutuskan untuk pulang sekitar pukul setengah 2 siang, rekan-rekan kami yang lain bahkan sudah pulang dari pukul 12.  Arf dan aku menjahit dan mengobrol terlalu asyik sehingga kami lupa waktu dan menikmati masa-masa pendedelan tersebut.

Ya, M.
Kami mengobrol banyak sekali. Sepertinya Arf dan aku satu tipe. Melihatnya, seperti melihatku 7 tahun yang lalu. Yeah, she was rebel and it was her past. Sekarang Arf adalah seorang gadis yang manis dan sedang berusaha untuk lebih baik.
Arf bilang padaku bahwa ia ingin berjilbab syar'i dan bahkan bercadar. Kau tau tidak, M. Aku bahkan ingin meleleh saat itu juga. Aku sudah berjilbab syar'i tapi aku belum bercadar. Hmmm itu sebenarnya keinginanku yang masih kusimpan. Aku bertekad suatu hari nanti aku akan bercadar, seperti Third, adikku nomor 2.

Ia banyak bertanya tentang agama padaku seharian ini, khususnya tentang jilbab syar'i dan cadar. 
Ia bilang, "aku ingin berubah menjadi lebih baik. Aku gak mau hidupku begini-begini saja. Aku gak tahu apa yang akan terjadi padaku selanjutnya, aku juga gak tahu kapan aku akan mati. Makanya aku ingin berubah jadi lebih baik."

Oh, M.
Kalimatnya barusan benar-benar membuatku melting. Arf yang cerita panjang lebar denganku hari ini, sangat berbeda dengan Arf yang beberapa minggu lalu, bahkan Arf beberapa hari lalu.

"Aku ingin tahu lebih banyak tentang agamaku."
"Aku ingin membaca dan mengetahui lebih banyak tentang bagaimana perempuan berpakaian dan berjilbab."
"Aku ingin berubah."
"Aku ingin bercadar."

Hey, M.
Itu merupakan kalimat-kalimatnya yang masih terngiang di kepalaku sampai detik ini.

Siang tadi, sepulang kursus aku mengajaknya ke rumahku, dia bisa mendapatkan banyak sumber dari buku, majalah atau artikel yang ada di rumahku.

Aku tak mau menyia-nyiakan jiwanya yang bersemangat. Menyenangkan sekali rasanya melihat semangatnya seperti itu. Aku seperti melihat diriku beberapa tahun lalu. Ketika aku semangat berhijrah. Senang sekali rasanya ketika kita sedang kehausan dan banyak sekali yang memberikan minum padaku. (Perumpamaannya terdengar aneh tidak yah?)
Semoga Alloh memudahkanlah segala urusannya, ia sedang berusaha berjuang meraih cinta dan keridhoan-Nya.

Nite-nite, M.
Semoga hati kami selalu istiqomah.

your Key
xxx



0 comments:

Post a Comment

Wednesday, October 3, 2012

Ghirah (Semangat)

Dearest M...
Sepanjang hari masih terasa hektik sepert biasa. Agak sedikit kewalahan juga dengan jahitanku. Rok merah muda untuk Najla belum selesai, dan bahkan aku sudah berani-beraninya melangkah pada materi selanjutnya: membuat kemeja berkerah.

Belajar menjahit kadang tidak sesukar yang kubayangkan, dan kadan tidak semudah yang kubayangkan sebelumnya. Untuk menjahit sebuah baju, kurasa bagian tersulit adalah saat menjahit bagian tangan. Jahit, kemudian dedel. Jahit kemudian dedel. Begitu beberapa kali. Membuatku sangat ingin membakar baju itu sekaligus.
Ternyata bukan hanya aku yang merasakan hal yang sama.

Hey M, akan kuceritakan hal-hal yang kualami hari ini.
Hari ini aku berangkat lebih pagi dari sebelumnya. Bertemu lagi dengan Mrs. D, guru kursusku yang cantik dan ceria.
Menyapaku dan dengan sangat perhatian bertanya tentang kesehatan ibuku karna kemarin aku izin mengantar Mom ke Rumah Sakit. Aku menjelaskan padanya bahwa Mom terkena Katarak. Kataraknya disebabkan karna penggunaan obat steroid, kau tahu kan bahwa Mom mengkonsumsi obat tersebut setiap hari selama lebih dari 5 tahun.

Mrs. D terlihat prihatin ketika mendengarnya kemudian mengatakan, "Semua orang mendapatkan cobaan sendiri-sendiri yang berbeda-beda. Semoga ibumu lekas sembuh."

Aku meng-aamiin-i, kemudian aku pamit untuk masuk ke dalam ruang praktek.

Ruang praktek menjahit ini luasnya kira-kira 10X4 meter, di dalamnya terdapat 7 uah mesin jahit dinamo, 1 buah mesin obras dan 10 mesin jahit manual. Di ujung ruangan sebelah kanan terdapat sebuah meja setrika bersama perlengkapan menyetrika.

Baru empat orang yang sudah berada di dalam ruang tersebut. Keempatnya adalah seniorku, rekan seangkatanku belum ada yang datang. Di atas mesin jahit favoritku yang kuincar, sudah tergeletak sebuah tas pink. Menandakan bahwa mesin itu akan digunakan oleh orang lain.

Aku mengeluh lemas dalam hati, "sepagi apapun aku datang, mesin itu memang bukan untukku." 
Aku pun mengambil mesin yang berada di depannya. Semua mesin jahit manual di sini sama saja, kecuali mesin jahit favoritku, hmmm....maksudku, mesin favorit kami. Makanya, mesin itu selalu menjadi bahan rebutan karna itu satu-satunya mesin jahit manual yang tak pernah bertingkah menyebalkan: tak ada benang kusut, tak ada benang putus, tak ada jahitan kendur. Pokoknya, kau akan selalu aman bersamanya. (Mungkin terdengar agak berlebihan, tapi ini nyata, M)

Alhamdulillah...
Sekitar pukul 10 aku bisa menggunakan mesin jahit keren itu karena Hana harus masuk kelas teori.
Oh ya, M.
Aku masih berkutat dengan tangan baju. Kemarin Any, seniorku, memotongnya lebih banyak 1 cm di bagian ketiak. Jadi mau tidak mau, aku harus mendedel (LAGI) lengan bajunya supaya aku bisa menambahkan jahitan 1/2 cm lebih besar.
Yup.. seperti yang selalu banyak orang katakan, menjahit adalah tentang ketelitian dan kesabaran. Kau harus teliti supaya tidak melakukan kesalahan dalam mengukur, mengguntik dan menjahit sebah baju. Dan kesabaran amat sangat diperlukan ketika kau mengalami kesalahan, kesabaran di sini maksudku adalah kesabaran dalam usahamu untuk memperbaikinya.

Entahlah, hari ini merupakan hari "Pendedelan Nasional" bagiku. Di sampingku, Arf juga sedang melakukan hal yang sama: mendedel. Kita senasib. Oleh karena itu kita berusaha untuk mengalihkan perhatian dari kebetean mendedel dengan membahas banyak tema sepanjang hari ini. And it worked.

Aku suka sekali dengan situasi ruang praktik hari ini. Kondusif, tenang, tanpa kegaduhan dari musik yang biasanya diputar oleh Any.
Sepanjang hari ini juga Any mendampingi kami, mengarahkan juga memberi nasehatnya dalam jahit-menjahit. Ia seorang perfeksionis, dan sifat itu memang harus dimiliki oleh seorang penjahit sejati. Ia akan menyuruh kami mendedel dan mengulangi jahitan jika jahitan kami terlihat berkerut atau tidak rapi. Any melakukanya dengan baik dan tidak bossy, sehingga kami merasa menyenangkan walau harus mendedel jutaan kali. 

Akhirnya, kami memutuskan untuk pulang sekitar pukul setengah 2 siang, rekan-rekan kami yang lain bahkan sudah pulang dari pukul 12.  Arf dan aku menjahit dan mengobrol terlalu asyik sehingga kami lupa waktu dan menikmati masa-masa pendedelan tersebut.

Ya, M.
Kami mengobrol banyak sekali. Sepertinya Arf dan aku satu tipe. Melihatnya, seperti melihatku 7 tahun yang lalu. Yeah, she was rebel and it was her past. Sekarang Arf adalah seorang gadis yang manis dan sedang berusaha untuk lebih baik.
Arf bilang padaku bahwa ia ingin berjilbab syar'i dan bahkan bercadar. Kau tau tidak, M. Aku bahkan ingin meleleh saat itu juga. Aku sudah berjilbab syar'i tapi aku belum bercadar. Hmmm itu sebenarnya keinginanku yang masih kusimpan. Aku bertekad suatu hari nanti aku akan bercadar, seperti Third, adikku nomor 2.

Ia banyak bertanya tentang agama padaku seharian ini, khususnya tentang jilbab syar'i dan cadar. 
Ia bilang, "aku ingin berubah menjadi lebih baik. Aku gak mau hidupku begini-begini saja. Aku gak tahu apa yang akan terjadi padaku selanjutnya, aku juga gak tahu kapan aku akan mati. Makanya aku ingin berubah jadi lebih baik."

Oh, M.
Kalimatnya barusan benar-benar membuatku melting. Arf yang cerita panjang lebar denganku hari ini, sangat berbeda dengan Arf yang beberapa minggu lalu, bahkan Arf beberapa hari lalu.

"Aku ingin tahu lebih banyak tentang agamaku."
"Aku ingin membaca dan mengetahui lebih banyak tentang bagaimana perempuan berpakaian dan berjilbab."
"Aku ingin berubah."
"Aku ingin bercadar."

Hey, M.
Itu merupakan kalimat-kalimatnya yang masih terngiang di kepalaku sampai detik ini.

Siang tadi, sepulang kursus aku mengajaknya ke rumahku, dia bisa mendapatkan banyak sumber dari buku, majalah atau artikel yang ada di rumahku.

Aku tak mau menyia-nyiakan jiwanya yang bersemangat. Menyenangkan sekali rasanya melihat semangatnya seperti itu. Aku seperti melihat diriku beberapa tahun lalu. Ketika aku semangat berhijrah. Senang sekali rasanya ketika kita sedang kehausan dan banyak sekali yang memberikan minum padaku. (Perumpamaannya terdengar aneh tidak yah?)
Semoga Alloh memudahkanlah segala urusannya, ia sedang berusaha berjuang meraih cinta dan keridhoan-Nya.

Nite-nite, M.
Semoga hati kami selalu istiqomah.

your Key
xxx



No comments:

Post a Comment