Dearest M...
Sepanjang hari
masih terasa hektik sepert biasa. Agak sedikit kewalahan juga dengan jahitanku.
Rok merah muda untuk Najla belum selesai, dan bahkan aku sudah berani-beraninya
melangkah pada materi selanjutnya: membuat kemeja berkerah.
Belajar menjahit
kadang tidak sesukar yang kubayangkan, dan kadan tidak semudah yang kubayangkan
sebelumnya. Untuk menjahit
sebuah baju, kurasa bagian tersulit adalah saat menjahit bagian tangan. Jahit,
kemudian dedel. Jahit kemudian dedel. Begitu beberapa kali. Membuatku sangat
ingin membakar baju itu sekaligus.
Ternyata bukan
hanya aku yang merasakan hal yang sama.
Hey M, akan
kuceritakan hal-hal yang kualami hari ini.
Hari ini aku
berangkat lebih pagi dari sebelumnya. Bertemu lagi dengan Mrs. D, guru kursusku yang cantik
dan ceria.
Menyapaku dan
dengan sangat perhatian bertanya tentang kesehatan ibuku karna kemarin aku izin
mengantar Mom ke Rumah Sakit. Aku menjelaskan padanya bahwa Mom terkena
Katarak. Kataraknya disebabkan karna penggunaan obat steroid, kau tahu kan
bahwa Mom mengkonsumsi obat tersebut setiap hari selama lebih dari 5 tahun.
Mrs. D terlihat
prihatin ketika mendengarnya kemudian mengatakan, "Semua orang mendapatkan
cobaan sendiri-sendiri yang berbeda-beda. Semoga ibumu lekas sembuh."
Aku meng-aamiin-i,
kemudian aku pamit untuk masuk ke dalam ruang praktek.
Ruang praktek
menjahit ini luasnya kira-kira 10X4 meter, di dalamnya terdapat 7 uah mesin
jahit dinamo, 1 buah mesin obras dan 10 mesin jahit manual. Di ujung ruangan
sebelah kanan terdapat sebuah meja setrika bersama perlengkapan menyetrika.
Baru empat orang
yang sudah berada di dalam ruang tersebut. Keempatnya adalah seniorku, rekan
seangkatanku belum ada yang datang. Di atas mesin jahit favoritku yang kuincar,
sudah tergeletak sebuah tas pink. Menandakan bahwa mesin itu akan digunakan oleh orang lain.
Aku mengeluh lemas
dalam hati, "sepagi apapun aku datang, mesin itu memang bukan
untukku."
Aku pun mengambil mesin yang berada di depannya. Semua
mesin jahit manual di sini sama saja, kecuali mesin jahit favoritku, hmmm....maksudku,
mesin favorit kami. Makanya, mesin itu selalu menjadi bahan rebutan karna itu satu-satunya mesin jahit manual yang tak
pernah bertingkah menyebalkan: tak ada benang kusut, tak ada benang putus, tak
ada jahitan kendur. Pokoknya, kau akan selalu aman bersamanya. (Mungkin terdengar agak berlebihan, tapi ini nyata, M)
Alhamdulillah...
Sekitar pukul 10
aku bisa menggunakan mesin jahit keren itu karena Hana harus masuk kelas teori.
Oh ya, M.
Aku masih berkutat
dengan tangan baju. Kemarin Any, seniorku, memotongnya lebih banyak 1 cm di
bagian ketiak. Jadi mau tidak mau, aku harus mendedel (LAGI) lengan bajunya
supaya aku bisa menambahkan jahitan 1/2 cm lebih besar.
Yup.. seperti yang
selalu banyak orang katakan, menjahit adalah tentang ketelitian dan kesabaran.
Kau harus teliti supaya tidak melakukan kesalahan dalam mengukur, mengguntik
dan menjahit sebah baju. Dan kesabaran amat sangat diperlukan ketika kau
mengalami kesalahan, kesabaran di sini maksudku adalah kesabaran dalam usahamu
untuk memperbaikinya.
Entahlah, hari ini
merupakan hari "Pendedelan Nasional" bagiku. Di sampingku, Arf juga
sedang melakukan hal yang sama: mendedel. Kita senasib. Oleh karena itu kita berusaha
untuk mengalihkan perhatian dari kebetean mendedel dengan membahas banyak tema
sepanjang hari ini. And it worked.
Aku suka sekali
dengan situasi ruang praktik hari ini. Kondusif, tenang, tanpa kegaduhan dari
musik yang biasanya diputar oleh Any.
Sepanjang hari ini
juga Any mendampingi kami, mengarahkan juga memberi nasehatnya dalam
jahit-menjahit. Ia seorang perfeksionis, dan sifat itu memang harus dimiliki
oleh seorang penjahit sejati. Ia akan menyuruh kami mendedel dan mengulangi
jahitan jika jahitan kami terlihat berkerut atau tidak rapi. Any melakukanya dengan
baik dan tidak bossy, sehingga kami merasa menyenangkan walau harus mendedel
jutaan kali.
Akhirnya, kami memutuskan
untuk pulang sekitar pukul setengah 2 siang, rekan-rekan kami yang lain bahkan sudah
pulang dari pukul 12. Arf dan aku menjahit dan mengobrol terlalu
asyik sehingga kami lupa waktu dan menikmati masa-masa pendedelan tersebut.
Ya, M.
Kami mengobrol
banyak sekali. Sepertinya Arf dan aku satu tipe. Melihatnya, seperti melihatku 7 tahun yang lalu. Yeah, she was rebel and it was her past. Sekarang Arf adalah seorang gadis yang
manis dan sedang berusaha untuk lebih baik.
Arf bilang padaku
bahwa ia ingin berjilbab syar'i dan bahkan bercadar. Kau tau tidak, M. Aku
bahkan ingin meleleh saat itu juga. Aku sudah berjilbab syar'i tapi aku belum
bercadar. Hmmm itu sebenarnya keinginanku yang masih kusimpan. Aku bertekad suatu
hari nanti aku akan bercadar, seperti Third, adikku nomor 2.
Ia banyak bertanya tentang agama padaku
seharian ini, khususnya tentang jilbab syar'i dan cadar.
Ia bilang, "aku ingin berubah menjadi lebih baik. Aku gak mau hidupku begini-begini saja. Aku gak tahu apa yang akan terjadi padaku selanjutnya, aku juga gak tahu kapan aku akan mati. Makanya aku ingin berubah jadi lebih baik."
Ia bilang, "aku ingin berubah menjadi lebih baik. Aku gak mau hidupku begini-begini saja. Aku gak tahu apa yang akan terjadi padaku selanjutnya, aku juga gak tahu kapan aku akan mati. Makanya aku ingin berubah jadi lebih baik."
Oh, M.
Kalimatnya barusan
benar-benar membuatku melting. Arf yang cerita panjang lebar denganku hari ini,
sangat berbeda dengan Arf yang beberapa minggu lalu, bahkan Arf beberapa hari
lalu.
"Aku ingin
tahu lebih banyak tentang agamaku."
"Aku ingin
membaca dan mengetahui lebih banyak tentang bagaimana perempuan berpakaian dan
berjilbab."
"Aku ingin
berubah."
"Aku ingin
bercadar."
Hey, M.
Itu merupakan
kalimat-kalimatnya yang masih terngiang di kepalaku sampai detik ini.
Siang tadi, sepulang kursus aku
mengajaknya ke rumahku, dia bisa mendapatkan banyak sumber dari buku, majalah
atau artikel yang ada di rumahku.
Aku tak mau menyia-nyiakan jiwanya yang bersemangat. Menyenangkan
sekali rasanya melihat semangatnya seperti itu. Aku seperti melihat diriku
beberapa tahun lalu. Ketika aku semangat berhijrah. Senang sekali rasanya ketika kita sedang kehausan dan banyak sekali yang memberikan minum padaku. (Perumpamaannya terdengar aneh tidak yah?)
Semoga Alloh memudahkanlah segala urusannya, ia sedang berusaha berjuang meraih cinta dan
keridhoan-Nya.
Nite-nite, M.
Semoga hati kami
selalu istiqomah.
your Key
xxx
xxx

0 comments:
Post a Comment