Friday, December 7, 2012

Menjadi Guru TK

"Beli jeruk nipis 2 ribu aja, ada kan?" Tanyaku pada pedagang sayur tempat langgananku di pasar Pabuaran. Hari itu bukan ibu-ibu biasa yang menjaga kios sayurnya.
"Ada neng, tapi tinggal sedikit soalnya sisa-sisa." Jawab kakek tersebut.
"Yang ini?" Sambil mengambil kantong plastik transparan yang berisi jeruk nipis yang memang tinggal sedikit.
"Iya, mau?"
"Boleh deh." Aku menyetui, mengingat tidak mudah untuk mendapatkan jeruk nipis di daerahku ini. "Ibunya kemana? Biasanya kalau belanja di sini yang jaga kios ibu" tanyaku.
"Sedang antar cucu sekolah," jawabnya  "Neng guru TK ya?" Tanya si kakek itu mengejutkanku.
"Kok tau?" Tanyaku penasaran "Kok bisa nebak saya guru TK?"
"Tau aja, dari gerak-gerik sama gaya bicaranya." Jawabnya ramah.
*Misterius*

Heh? Dari gerak gerik dan gaya bicaraku katanya? O well.... Aku enggak sok imut, sok cadel. Lagipula selama mengajar dan bersama anak-anak pun aku juga enggak sok imut dan sok cadel, menyesatkan tuh hehe... Kunci penting mengajak bicara anak-anak balita itu harus dengan ejaan baik dan benar, bukannya bercadel-cadel ria misal: "Dede mimi tutu ya..." (Dede minum susu ya!) atau "Lambutnya dicicil duyu bial lapih... " (Rambutnya disisir dulu biar rapih." Kalau sudah cadel, ga mudah juga menyembuhkannya loh. Harus latihan mengucapkan hurup R sesering mungkin :)
*IMHO*


Singkatnya, sepulang belanja jadi kepikiran terus tentang guru TK. Cupu juga sih, aku sudah hampir satu tahun berhenti jadi guru TK, dan masih ngaku-ngaku juga. Masalahnya, aku masih ingin mengajar di TK. Bekerja dengan anak-anak menjadi passion-ku selama lebih 5 tahun terakhir ini.


Padahal ambisiku dari SMA adalah ke Jerman/Austria/Swiss/Inggris lalu meneruskan study sambil bekerja, berkarir dan mungkin berkeluarga juga di sana. Tapi segalanya berubah seiring dengan ketertarikanku pada "dunia anak-anak". Dan aku sama sekali tidak menyesal bahwa ambisiku tersebut tidak terealisasikan. Kenapa? Karna aku mendapat gantinya, sebuah ambisi baru karna aku mendapat hidayah besar dari Allah. Subhanallah. Aku bahkan enggak tau cara mengungkapkan betapa indahnya hidayah yang kudapat tersebut dan tentu saja aku enggak mau melepaskannya.

Dengan mengenal manhaj salaf, aku bisa berjibab dengan syar'i, bukan hanya pola pikirku pun berubah, akan tetapi banyak hal yang berubah dari hidupku. Alhamdulillah itu merupakan perubahan yang baik. Sambil belajar manhaj ini aku pun bekerja menjadi guru TKIT Assunnah (yeay.... cita-citaku terealisasi) dan aku begitu menikmati menjadi seorang guru TK: mengajari anak-anak menulis dan membaca, potty training, surat-surat pendek, bacaan sholat, hadist-hadist dan sebagainya. Belum lagi phobiaku pada muntah dan darah menjadi berkurang.

Bagaimana tidak? Suatu hari kami outbound ke Salsabila di Kuningan. Husni muntah di mobil dalam perjalanan. Kalau bukan aku yang mengurusnya siapa lagi? MasyaAllah, aku sanggup menghadapi Husni yang muntah-muntah dasyat. FYi. dulunya kalau aku mendengar suara orang muntah (tanpa mencium bau muntah pun) aku pun ikutan muntah secara otomatis. Sejak saat itu aku bisa menghadapi bau muntah.
Kejadian lainnya berkaitan dengan darah. Entah kenapa aku memegang kelas yang anak-anaknya sering mimisan dan berdarah. Misalnya: Muhammad Rafi dan Rafa  yang sering mimisan hingga membuatku terbiasa menghadapi darah.

Well... aku mencintai pekerjaanku sebagai guru TK. Aku merasa bangga jika ditanya tentang pekerjaanku (boleh gak sih merasa bangga seperti itu?) Menjadi seorang guru TK bukan karna sebatas passion-ku saja, aku amat merasa nyaman dengan pekerjaan itu. Bekerja dengan anak-anak, melatih instingku sebagai ibu kelak, tidak ber-ikhtilath (karna aku bekerja bersama anak-anak dan rekan akhwat) dan yang tidak kalah penting adalah bahwa aku bisa bekerja dengan hijabku (tentu saja, karna aku bekerja di TKIT bukan di TK International hihi).


Hampir satu tahun berhenti kerja membuatku selalu kangen mengajar dan bermain bersama anak-anak. Aku sudah merasa nyaman dengan bekerja di TKIT, kurasa itu adalah satu-satunya tempat di mana aku mau bekerja. Idealisme-ku sekarang begini.

Teringat tentang ucapan pamanku yang memiliki istri seorang guru TK, "Nyamannya punya istri seorang guru TK, pergaulannya aman karna hanya sebatas anak-anak dan semua rekan kerjanya, sekaligus sisi kewanitaan dan keibuannya diasah setiap hari."


Well, uncle...that’s the point!

0 comments:

Post a Comment

Friday, December 7, 2012

Menjadi Guru TK

"Beli jeruk nipis 2 ribu aja, ada kan?" Tanyaku pada pedagang sayur tempat langgananku di pasar Pabuaran. Hari itu bukan ibu-ibu biasa yang menjaga kios sayurnya.
"Ada neng, tapi tinggal sedikit soalnya sisa-sisa." Jawab kakek tersebut.
"Yang ini?" Sambil mengambil kantong plastik transparan yang berisi jeruk nipis yang memang tinggal sedikit.
"Iya, mau?"
"Boleh deh." Aku menyetui, mengingat tidak mudah untuk mendapatkan jeruk nipis di daerahku ini. "Ibunya kemana? Biasanya kalau belanja di sini yang jaga kios ibu" tanyaku.
"Sedang antar cucu sekolah," jawabnya  "Neng guru TK ya?" Tanya si kakek itu mengejutkanku.
"Kok tau?" Tanyaku penasaran "Kok bisa nebak saya guru TK?"
"Tau aja, dari gerak-gerik sama gaya bicaranya." Jawabnya ramah.
*Misterius*

Heh? Dari gerak gerik dan gaya bicaraku katanya? O well.... Aku enggak sok imut, sok cadel. Lagipula selama mengajar dan bersama anak-anak pun aku juga enggak sok imut dan sok cadel, menyesatkan tuh hehe... Kunci penting mengajak bicara anak-anak balita itu harus dengan ejaan baik dan benar, bukannya bercadel-cadel ria misal: "Dede mimi tutu ya..." (Dede minum susu ya!) atau "Lambutnya dicicil duyu bial lapih... " (Rambutnya disisir dulu biar rapih." Kalau sudah cadel, ga mudah juga menyembuhkannya loh. Harus latihan mengucapkan hurup R sesering mungkin :)
*IMHO*


Singkatnya, sepulang belanja jadi kepikiran terus tentang guru TK. Cupu juga sih, aku sudah hampir satu tahun berhenti jadi guru TK, dan masih ngaku-ngaku juga. Masalahnya, aku masih ingin mengajar di TK. Bekerja dengan anak-anak menjadi passion-ku selama lebih 5 tahun terakhir ini.


Padahal ambisiku dari SMA adalah ke Jerman/Austria/Swiss/Inggris lalu meneruskan study sambil bekerja, berkarir dan mungkin berkeluarga juga di sana. Tapi segalanya berubah seiring dengan ketertarikanku pada "dunia anak-anak". Dan aku sama sekali tidak menyesal bahwa ambisiku tersebut tidak terealisasikan. Kenapa? Karna aku mendapat gantinya, sebuah ambisi baru karna aku mendapat hidayah besar dari Allah. Subhanallah. Aku bahkan enggak tau cara mengungkapkan betapa indahnya hidayah yang kudapat tersebut dan tentu saja aku enggak mau melepaskannya.

Dengan mengenal manhaj salaf, aku bisa berjibab dengan syar'i, bukan hanya pola pikirku pun berubah, akan tetapi banyak hal yang berubah dari hidupku. Alhamdulillah itu merupakan perubahan yang baik. Sambil belajar manhaj ini aku pun bekerja menjadi guru TKIT Assunnah (yeay.... cita-citaku terealisasi) dan aku begitu menikmati menjadi seorang guru TK: mengajari anak-anak menulis dan membaca, potty training, surat-surat pendek, bacaan sholat, hadist-hadist dan sebagainya. Belum lagi phobiaku pada muntah dan darah menjadi berkurang.

Bagaimana tidak? Suatu hari kami outbound ke Salsabila di Kuningan. Husni muntah di mobil dalam perjalanan. Kalau bukan aku yang mengurusnya siapa lagi? MasyaAllah, aku sanggup menghadapi Husni yang muntah-muntah dasyat. FYi. dulunya kalau aku mendengar suara orang muntah (tanpa mencium bau muntah pun) aku pun ikutan muntah secara otomatis. Sejak saat itu aku bisa menghadapi bau muntah.
Kejadian lainnya berkaitan dengan darah. Entah kenapa aku memegang kelas yang anak-anaknya sering mimisan dan berdarah. Misalnya: Muhammad Rafi dan Rafa  yang sering mimisan hingga membuatku terbiasa menghadapi darah.

Well... aku mencintai pekerjaanku sebagai guru TK. Aku merasa bangga jika ditanya tentang pekerjaanku (boleh gak sih merasa bangga seperti itu?) Menjadi seorang guru TK bukan karna sebatas passion-ku saja, aku amat merasa nyaman dengan pekerjaan itu. Bekerja dengan anak-anak, melatih instingku sebagai ibu kelak, tidak ber-ikhtilath (karna aku bekerja bersama anak-anak dan rekan akhwat) dan yang tidak kalah penting adalah bahwa aku bisa bekerja dengan hijabku (tentu saja, karna aku bekerja di TKIT bukan di TK International hihi).


Hampir satu tahun berhenti kerja membuatku selalu kangen mengajar dan bermain bersama anak-anak. Aku sudah merasa nyaman dengan bekerja di TKIT, kurasa itu adalah satu-satunya tempat di mana aku mau bekerja. Idealisme-ku sekarang begini.

Teringat tentang ucapan pamanku yang memiliki istri seorang guru TK, "Nyamannya punya istri seorang guru TK, pergaulannya aman karna hanya sebatas anak-anak dan semua rekan kerjanya, sekaligus sisi kewanitaan dan keibuannya diasah setiap hari."


Well, uncle...that’s the point!

No comments:

Post a Comment